Kamis, 30 Juli 2009

pengolahan ikan pindang

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, menyusul dua per tiga wilayah Indonesia terdiri dari laut, potensi perikanan sebesar 6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005, total produksi perikanan 4,71 juta ton, dimana 75 % (3,5 juta ton) berasal dari tangkapan laut. Apabila dilihat dari tingkat pemanfaatan, terutama untuk ikan-ikan non ekonomis belum optimal. Hal ini disebabkan pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan konsumsi segar. Akibatnya ikan-ikan tidak ditangani dengan baik dikapal, sehingga ikan yang didaratkan bermutu rendah (20–30%), sehingga berdampak pada tingginya tingkat kehilangan (losses) sekitar 30-40%. Lebih jauh lagi, ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah. Sebagai konsekuensinya, usaha pengolahan produk hasil perikanan di Indonesia belum bergairah.Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86%. Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 857.782 ton, 80% diantaranya didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional hanya sekitar 6% saja. Disisi lain ikan hasil tangkapan samping (HTS/by catch) pukat udang dan tuna serta sisa olahan (by product) industri perikanan belum pula dimanfaatkan secara optimal sehingga ikan tangkapan samping khususnya ikan-ikan non ekonomis/sisa hasil industri yang tidak termanfaatkan dibuang ke laut atau ditimbun dengan tanah, dengan demikian terjadi kehilangan nilai jual ikan.
Sektor perikanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja (padat karya), sumber pendapatan bagi nelayan, sumber protein hewani dan sumber devisa bagi negara. Salah satu usaha untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan pemanfaatan produksi hasil tangkapan laut adalah dengan pengembangan produk bernilai tambah, baik olahan tradisional maupun modern. Namun produk bernilai tambah yang diproduksi di Indonesia masih dari ikan ekonomis seperti tuna/udang kaleng, tuna steak, loin dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual meski tanpa dilakukan proses lanjutan. Sedangkan apabila ingin merubah nilai jual ikan non ekonomis maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui teknologi produk perikanan (pengembangan produk hasil perikanan) agar lebih bias diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, aman, sehat melalui asupan gizi/vitamin/protei dari produk hasil perikanan dan ketahanan pangan.

B. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan outsourshing dilaksanakan di Muncar adalah sebagai berikut :
1. Menambah wawasan mengenai kehidupan penduduk pesisir pantai Muncar khususnya dalam usaha perikanannya.
2. Mengetahui potensi usaha perikanan yang menjadi mata pencaharian penduduk pesisir pantai di Muncar.
3. Mengetahui manajemen usaha perikanan yang dilakukan penduduk di Muncar.
4. Pemenuhan kegiatan akademik mata kuliah Manajemen Usaha Penangkapan Ikan (MUPI).










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu bahan mentahnya.

a. Tanda ikan yang sudah busuk:
- mata suram dan tenggelam;
- sisik suram dan mudah lepas;
- warna kulit suram dengan lendir tebal;
- insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
- dinding perut lembek;
- warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

b. Tanda ikan yang masih segar:
- daging kenyal;
- mata jernih menonjol;
- sisik kuat dan mengkilat;
- sirip kuat;
- warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
- insang berwarna merah;
- dinding perut kuat;
- bau ikan segar.
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak.
Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan ikan.

Tabel. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan
KOMPONEN
KADAR (%)
Kandungan air 76,00
Protein 17,00
Lemak 4,50
Mineral dan vitamin 2,52-4,50

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ikan mempunyai nilai protein tinggi, dan kandungan lemaknya rendah sehingga banyak memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh manusia. Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di negara Jepang dan Taiwanikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang memberikan efek awet muda dan harapan hidup lebih tinggi dari Negara lainnya. Penggolahan ikan dengan berbagai cara dan rasa menyebabkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak.









BAB III
METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Outsourching
Kegiatan outsoursing dilaksanakan pada tanggal 13 juli 2009. Tempat kegiatannya di laksanakan disekitar pesisir pantai yang terletak di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar - Banyuwangi.

B. Metode
Dalam pelaksanaan outsourching kami melakukan metode orientasi, observasi, dan adaptasi :
1. Orientasi
Sebelum melaksanakan kegiatan outsourching ini, kami terlebih dahulu dikumpulkan dalam suatu ruangan yang berada dikampus untuk diberikan pengarahan dan bimbingan dalam melaksanakan kegiatan outsourching ditempat yang telah ditentukan oleh pihak kampus sesuai dengan topik atau sasaran yang pilih.

2. Observasi
Dalam metode observasi ini kami mengadakan pengamatan langsung pada tempat yang dilaksanakannya kegiatan outsourching yaitu pesisir pantai tepatnya di pelabuhan perikanan pantai Muncar – Banyuwangi. Kami juga melakukan pengamatan secara langsung dengan melihat kegiatan usahanya maupun wawancara dengan konsumen langsung.

3. Adaptasi
Adaptasi yaitu penyesuain diri di tempat kegiatan outsourching dilaksanakan. Adaptasi sangatlah penting karena hal tersebut menunjang dalam kelancaran memperoleh informasi yang diinginkan. Adapun adaptasi yang kami lakukan kepada konsumen yaitu dengan cara tanya jawab tentang kegiatan usaha yang dilakukan disekitar pantai Muncar.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Ikan merupakan hasil tangkapan laut yang sangat penting bagi penduduk pantai di Indonesia, disamping sebagai sumber makanan utama protein hewani juga obyek mata pencaharian pokok bagi nelayan. Permintaan ikan laut segar untuk kebutuhan pasar lokal maupun pasar eksport semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menuntut nelayan untuk tetap menjaga kesegaran ikan yang diperolehnya dengan tehnik-tehnik yang semakin diperbaiki. Adapun yang dimaksud ikan segar adalah ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya. Karenanya diperlukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan kesegaran ikan hingga sampai ketangan konsumen, mengingat ikan segar mempunyai sifat-sifat mudah rusak yaitu menjadi berbau anyir/amis, membusuk, daging menjadi rusak/koyak dan kulit berlendir karena aktivitas mikroorganisme atau terjadinya proses kimiawi dalam tubuh ikan itu sendiri. Pentingnya aktivitas kualitas dalam organisasi telah berkembang bersama dengan pentingnya pelanggan, artinya perusahaan yang digerakan pelanggan dan pasar sebagai sesuatu yang berjanji menyediakan kualitas yang sangat baik serta produk dan jasa yang kompetitif untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan segmen pasar yang telah ditentukan dengan baik. Pendekatan tersebut secara kontras berbeda dari organisasi tradisional. Proses dan tehnik mempertahankan kesegaran ikan yang banyak dikenal dikalangan masyarakat secara tradisional adalah pemindangan. Tehnik ini biasanya dipergunakan bagi kebutuhan ikan segar untuk pasar lokal. Sedangkan untuk kebutuhan pasar eksport, tehnik yang dipergunakan lebih canggih dan modern seperti suhu rendah, suhu tinggi, pengurangan kadar air, penambahan zat antiseptik dan ruang hampa udara. Pada prinsipnya semua cara penanganan yang dilakukan tersebut adalah untuk menghentikan atau menghambat pertumbuhan mikriorganisme dan aktivitas enzim pada tubuh ikan segar yang dapat menyebabkan kerusakan. Pemindangan adalah salah satu cara pengolahan ikan segar dengan kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan. Proses ini dimaksudkan agar produk bisa tahan lebih lama sehingga dapat dipasarkan ke daerah yang cukup jauh, karena ketahananan produk ikan dengan tahnik ini mencapai 3- 4 hari, dan lebih dari masa itu ikan akan mengalami proses pembusukan. Proses ini banyak dilakukan oleh masyarakat di sekitar pantai dengan skala usaha rumahtangga ( kecil ) sampai dengan sedang yang melibatkan tenaga kerja diluar rumah tangga dengan tehnologi yang sederhana, tetapi proses ini juga tetap memiliki nilai tambah yang akan dinikmati olah masyarakat namun demikian dalam proses pemindangan yang dilakukan masyarakat masih cukup besar tingkat kerusakan yang terjadi, sehingga tidak memenuhi standar kualitas produk untuk dipasarkan. Kerusakan ini meliputi, produk cacat atau ikan hasil olahan cacat seperti ekor patah, terlalu masak ( lunak ) sampai kepala ikan patah, dimana biasanya ikan dianggap tidak layak untuk dipasarkan. Kerusakan pada proses pemindangan dapat terjadi pada setiap tahapan proses yang dilakukan, mulai dari seleksi bahan yang akan diproses sampai tahapan penirisan dan pemindahan pada pak-pak yang siap dipasarkan. Hal ini karena dalam rangkaian proses pemindangan sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga manusia ( manual ), sehingga keterampilan, ketekunan dan ketelitian sangat diperlukan untuk menjaga agar tingkat kerusakan yang terjadi dapat ditekan. Oleh karena itu diperlukan pengawasan kualitas produk pada setiap tahapan proses pemindangan. Artinya jika produk yang dihasilkan rusak atau cacat atau yang dapat dianggap akan rusak jika diikutkan dalam proses berikutnya pada satu tahapan, tidak diikutkan lagi pada proses tahapan berikutnya . Dengan demikian tidak terjadi kumulatif kerusakan pada akhir proses dan pula pengawasan kualitas dapat dilakukan pada setiap tahapan proses pemindangan. Pemindangan yang banyak dilakukan oleh masyarakat selama ini adalah proses yang sifatnya tradisional, artinya teknologi yang dipergunakan sederhana dan pengetahuan tehnis itu diperoleh secara turun temurun tanpa evaluasi dan pembaharuan terhadap kelemahan-kelemahan yang terjadi. Tingkat kerusakan yang terjadi juga dipahami sebagai resiko yang pasti dihadapi dan wajar, tanpa berusaha meneliti penyebab dan memperbaiki proses manualnya. Oleh karena itu diperlukan tehnik pengawasan kualitas yang mudah dipahami dan dijalankan oleh masyarakat, mengingat pelaku pemindangan adalah sebagian besar masyarakat yang tingkat pendidikannya tidak tinggi.Daerah Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah penghasil ikan terbesar di wilayah Indonesia bagian timur. Ikan segar yang dihasilkan nelayan, selain menjadi pasokan utama pabrik pengalengan ikan, juga diolah menjadi produk-produk olahan lain yaitu ikan asin, ikan pindang, tepung ikan dan produk sampingan terasi dan petis. Pemindangan juga merupakan kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat yang hasilnya dikirim keluar daerah sampai ke pasar-pasar.
Dalam proses pemindangan di daerah Muncar, juga dapat dijumpai tingkat kerusakan produk hasil olahan yang cukup berarti. Mengingat produk ini akan dipasarkan didaerah yang jauh dan memerlukan waktu lama dalam perjalanan, maka kondisi produk yang tetap terjaga kualitasnya sampai dipasar bergantung pada bagaimana pendekatan kualitas pada setiap tahapan proses pemindangan yang dilakukan. Permasalahan yang dihadapai adalah, apakah dalam proses pemindangan yang telah mentradisi di Muncar juga dilakukan pengawasan kualitas produk, mengingat hasil produk ini dipasaran masih banyak mengalami kerusakan dan kurang tahan jika disimpan dalam waktu agak lama ( lebih dari 4 hari ) dan metode tradisional yang bagaimana yang telah dilakukan masyarakat dalam menjamin kualitas hasil pindang dan juga mengidentifikasi kelemahan dari setiap proses yang kurang mendukung terjaminnya kualitas ikan pindang, sehingga kelak metode-metode tersebut dapat dikembangkan lebih jauh menjadi metode yang cukup efektif dan efisien untuk menekan tingkat kerusakan. Tujuan dan Kegunaan pembuatan makalah ini adalah
1.Untuk mengidentifikasi metode pengawasan kualitas dalam proses pemindangan didaerah Muncar.

B. Kualitas Ikan
Pengertian kualitas adalah :
1. Kualitas terdiri dari jumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk itu.
2. Kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan.
Dengan memperhatikan pengertian kualitas tersebut diatas, maka jika diaplikasikan pada proses pemindangan diharapkan menghasilkan kualitas yang benar-benar memenuhi kepuasan pelanggan.yaitu yang bercirikan: ikan yang masih mempunyai sifat yang sama seperti ikan hidup, baik rupa, bau, rasa maupun teksturnya, atau ciri tersebut dapat diindikatorkan : segar, bentuknya utuh, bau masih segar/tidak busuk, rasanya tidak anyir dan teksturnya mengkilat. Untuk menjamin dihasilkannya ikan pindang sesuai dengan kualitas yang dikenhendaki tersebut maka dibutuhkan cara yang berciri manajemen kualitas, yaitu : suatu cara meningkatkan perfomansi terus menerus pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap fungsional organisasi, dengan menggunakan semua sumberdaya manusia dan modal yang tersedia.

a. Proses Produksi Pindang Ikan
Ikan adalah binatang berdarah dingin yang hidup didalam air dan mempunyai sirip sebagai penggerak tubuh serta bernafas dengan insang. Ikan merupakan sumber makanan yang mengandung protein, dikenal sebagai protein hewani, yang merupakan bahan gizi penting ( esensial ) bagi tubuh manusia. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata daging ikan mempunyai komposisi kimia sebagai berikut :
Air : 60,0 - 84,0 %.
Protein : 18,0 – 30,0 %
Lemak : 0,1 - 2,2 %
Karbohidrat : 0,0 - 1,0 %
Vitamin dan mineral sisanya.
Selanjutnya dalam penelitian tersebut juga dijelaskan beberapa kelemahan ikan :
1).Tubuh ikan mempunyai kadar air yang tinggi ( 80 % ) dan pH tubuh mendekati netral, sehingga merupakan media yang baik bagi petumbuhan bakteri pembusuk maupun mikroorganisme lain, karenanya ikan merupakan komoditi yang sangat cepat membusuk (perishabel).
2). Daging ikan mengandung sedikit sekali tenunan pengikat (tendon), sehingga sangat mudah dicerna oleh enzim autolisis. Hasil pencernakan ini menyebabkan daging menjadi sangat lunak yang merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme.
3). Daging ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh yang sifatnya sangat mudah mengalami proses oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Jenis ikan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pemindangan adalah ikan air laut seperti tongkol (Euthynnus sp), tengiri (Scomberomorus sp), kembung (Scomber sp), layang (Decapterus sp) dan ikan air tawar misalnya mas (Ciprius carpio) dan nila (Tilapia nilotica) serta ikan air payau seperti bandeng (Chanos chanos). Di daerah Muncar, sebagian besar (98%) ikan yang digunakan dalam pemindangan adalah jenis layang.

Pemindangan ikan merupakan salah satu cara pengolahan ikan dengan kombinasi perlakuan antara penggaraman dan perebusan. Dengan adanya garam, maka produk ini bisa tahan lebih lama, sehingga dapat dipasarkan ke daerah yang cukup jauh. Hasil olahan pemindangan merupakan produk yang banyak disukai oleh masyarakat. Ikan pindang dapat dibuat dengan berbagai cara, tergantung jenis ikan dan wadah yang digunakan. Namun demikian, secara garis besar proses pembuatan ikan pindang ( pemindangan ) yang dilakukan masyarakat di Kecamatan Muncar, mempunyai prinsip yang hampir sama yaitu sebagai berikut:
1. Penyiangan dan pencucian.
Tahapan proses ini adalah mengelompokan ikan berdasar pada jenis, ukuran dan tingakat kesegarannya. Kemudian ikan disiangi dengan membuang sisik, sirip, insang , isi perut dan kotoran lainnya. Kebanyakan pemindang tidak melakukan proses penyiangan ini, karena dianggap pemborosan kerja dan waktu, mengingat ikan toh selanjutnya akan dimasak, juga memperkecil resiko kerusakan karena penyiangan.

2. Penyusunan ikan.
Ikan disusun secara teratur ke dalam periuk, untuk menjamin bahwa proses kematangan ikan merata. Periuk yang digunakan terbuat dari tanah liat, disamping untuk meneralisir panas yang terlalu tinggi juga menyebarkan panas secara merata keseluruh bagian. Pada proses ini tidak dilakukan seleksi ikan yang baik dan yang sudak mendekati jelek/rusak. Pemindang beranggapan ikan yang tidak terlalu baik, jika dimasak, masih menampakan kesegarannya.

3. Penggaraman ikan.
Penggaraman dalam proses pemindangan berfungsi untuk memberikan rasa gurih, menurunkan kadar cairan dalam tubuh ikan, dan mencegah atau menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk maupun organisme lain. Kecepatan penetrasi garam kedalam daging ikan dipengaruhi oleh konsentrasi garam, kemurnian garam, jenis dan ukuran ikan, kadar lemak dan suhu . Garam yang ditaburkan pada ikan banyaknya bergantung pada berat ikan. Kebiasaan masyarakat dalam pemberian garam tanpa ditimbang sesuai dengan berat ikan dan pula kualitas garam yang digunakan tidak terjamin kemurniannya.

4. Perebusan ikan.
Perebusan berfungsi untuk membuat ikan menjadi masak. Pada proses ini api yang digunakan sekitar 600 selama 2 – 12 jam. Lama perebusan ini bergantung pada ukuran ikan yang dipindang.Semakin besar ukurang ikan , semakin lama waktu perebusan . Tanda ikan telah maska pada proses perebusan adalah, terdapat retakan-retakan, terutama pada bagian daging, kepala dan ekor. Untuk melihat apakah ikan sudah masak atau belum, kebiasaan yang dilakukan masyarakat adalah dengan melihat kedalam periuk, dan dengan pijitan tangan pada tubuh ikan, maka dapat diperkirakan apakah ikan tersebut masak atau belum. Sering terjadi bahwa ikan yang direbus terlalu masak, sehingga pada saat diangkat ada bagian-bagian yang lepas (ikan tidak utuh lagi).

5. Penyimpanan.
Penyimpanan ikan pindang yang telah masak harus diletakan ditempat yang kering (tidak lembab) dengan temperatur ruangan yang cukup rendah, hal ini untuk mencegah meningkatnya aktivitas bakteri maupun mikroorganisme lain, yang akan menurunkan kwalitas ikan pindang. Secara garis besar proses pemindangan tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut untuk memperjelas aktivitas setiap fungsi. Dari proses tersebut, hasil produk akhir ikan pindang rata-rata mengalami kerusakan anatar 10% - 15% kerusakan tersebut.

b. Langkah-langkah Peningkatan Proses Pemindangan.
Tenner dan DeToro ( 1992 ) mengemukakan suatu model peningkatan proses terus menerus yang terdiri dari enam langkah sebagai berikut :
1.Mendifinisikan Masalah dalam Konteks Proses.
2.Identifikasi danDokumentasi Proses.
3.Mengukur Kinerja.
4.Memahami Mengapa suatu masalah dalam Konteks Proses Terjadi.
5.MengembangkandanMengujiIde-ide.
6.Implementasi,

Solusi dan Evaluasi dalam mengevaluasi proses pemindangan yang dilakukan masyarakat di Kec. Muncar, langkah urutan ke 1 s/d ke 3, dari langkah tersebut data diperoleh dari laporan penelitian yang dilakukan mahasiswa dan selanjutnya akan digambarkan langkah ke 4 dalam proses tersebut. Memahami mengapa suatu masalah dalam konteks proses terjadi pada akhirnya akan mengetahui akar penyebab dari masalah yang digambarkan dalam diagram sebab akibat. Diagram yang dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa digunakan untuk mengetahui akibat dari suatu masalah untuk selanjutnya diambil tindakan perbaikan. Dari akibat tersebut kemudian dicari beberapa kemungkinan penyebabnya. Penyebab inipun dapat berasal dari sumber utama, misalnya metode kerja, bahan, pengukuran, karyawan, lingkungan dan seterusnya.
Dengan demikian dalam proses pemindangan seperti yang telah diterangkan diatas diketahui penyebab masalah, sebagai berikut :
Pada awal Proses ==> ikan segar, sebagai bahan input belum terseleksi dengan baik. Pencucian dan penyiangan ==> pencucian kurang hati-hati dan penyiangan tidak dilakukan. Penyusunan ikan ==> tidak dilakukan lagi seleksi terhadap ikan yang rusak.akibat pencucian yang kurang hati-hati. Penggaraman ==> tidak ditimbang sesuai dengan ukuran, bahan garam kurang murni. Perebusan==> derajat panas tidak diukur dan lama perebusan hanya kira-kira. Penyimpanan ==> tidak diperhatikan kelembaban ruangan.













BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari kegiatan outsourching yang telah dilaksanakan di muncar, kami dapat menyimpulkan bahwa masyarakat pesisir pantai muncar memperoleh penghasilan dari usaha perikanan laut, dimulai dari kegiatan penangkapan ikan, pengolahan dan pemasannya.
Pemasaran hasil pengolahan ikan di pesisir pantai muncar tidak hanya di pasarkan di Indonesia saja tetapi pemasarannya mencapai kemancanegara. Adapun prodak hasil pengelohan ikan yang banyak diproduksi dan dipasarkan yaitu ikan pindang, ikan beku, pakan ikan, pupuk dan minyak ikan.


DAFTAR PUSTAKA

A.H.Purnomo, dkk, Analisa Sosio Ekonomi Terhadap Praktek Penanganan Mutu Ikan Pelagis Kecil Di Tempat Pelelangan Ikan Blanakan dan Pekalongan, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.Vol.8 No.7.2002.

Darmorejo S,dkk, Pengolahan Pindang Ikan yang Digarami Di Laut, Jurnal Penelitian Tehnologi Perikanan ,LPTP, Jakarta, 1972.

Dorothea Wahyu Ariani, Pengendalian Kualitas Statistik ( Pendekatan Kuantitatif dalam Manajemen Kualitas, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004.

Dwi Siwi Santy Wardani, Proses Pembuatan Ikan Pindang dalam Rangka Meningkatkan Nilai Tambah dan Penghasilan Masyarakat Nelayan, Skripsi S1, Untag,Banyuwangi, 2001.

Gaspersz Vincent, Total Quality Management, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.

, Metode Analisa untuk Peningkatan Kualitas, Penerbit Gramedia Pustaka Utama , Jakarta, 2004.

Heruwati.E., Mikrobiologi Pengolahan Ikan Secara Tradisional, Laporan Lokakarya Tehnologi Pengolahan Ikan Secara Tradisionil, No 1, LTP B3P, Jakarta, 1979.

Sonny Koeshendrayana,dkk,Analisis Budidaya Udang Galah di Kabupaten Gianyar, Bali, Jurnal Penelitian Perikanan,Vol 8- No 7, Jakarta, 2002.
T.J.Moedjiharto, Peningkatan Mutu Gizi Protein Pindang Ikan Ikan Layang dengan Optimasi Proses Pemindangan , Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati,Vol 14-No 1, Jakarta 2002.

Thomas Pysdek, The Six Sigma Handbook, Penerbit Salemba 4, Jakarta,2002.
Posted by Hendri Widotono, S.Pt.,M.P.

Berbagai cara pengolahan dan pengawetan ikan. Yogyakarta : Proyek
Pengembangan Penyuluhan Pertanian Pusat, Departemen Pertanian, 1987.

Pengolahan ikan. Subang : Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna,
Puslitbang Fisika Terapan-LIPI, 1990.

Teknologi desa. Jakarta : Direktorat Pengembangan dan Perluasan Kerja,
1983. Seri PengolahanPangan.

0 komentar:

Poskan Komentar